Headlines News :
Home » » KONSEP DASAR POLITIK PEMERINTAHAN

KONSEP DASAR POLITIK PEMERINTAHAN

Written By mikailahaninda.blogspot.com on Rabu, 11 Februari 2015 | 13.11

BAGIAN VIII
KONSEP DASAR POLITIK PEMERINTAHAN
A.    Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari materi pada bagian ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar politik pemerintahan serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
B.     Deskripsi Materi
1.      Pengertian Politik
Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah  proses  pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi  yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.
Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Para ahli banyak mengemukakan pendapatnya tentang pengertian politik dengan meninjau dari berbagaiaspek. Berikut dijelaskan beberapa pendapat ahli tentang politik, yaitu:
1.      Rod Hagu
Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan diantara anggota-anggotanya.
2.      Andrew Heywood
Politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamademen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala komflik dan kerjasama.
3.      Carl Schmid
Politik adalah suatu dunia yang didalamnya orang-orang lebih membuat keputusan - keputusan daripada lembaga-lembaga abstrak.
4.       Litre
Politik didefinisikan sebagai ilmu memerintah dan mengatur Negara.
5.      ROBERT
Definisi politik adalah seni memerintah dan mengatur masyarakat manusia.
6.      IBNU AQIL
Politik adalah hal-hal praktis yang lebih mendekati kemaslahatan bagi manusia dan lebih jauh dari kerusakan meskipun tidak digariskan oleh Rosulullah S.A.W.
Bagi kaum institusionalis seperti Roger F. Soltau (1961: 4), menyatakan: Ilmu politik adalah kajian tentang Negara, tujuan-tujuan  Negara, dan lembaga- lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu; hubungan antara Negara dengan warga negaranya serta dengan Negara- Negara lain.  Sementara itu Deliar Noer mencoba merumuskan pengertian politik yaitu “ilmu politik memusatkan perhatiannya terhadap permasalahan- permasalahan kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat” (Noer,1965:56).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ilmu politik merupakan  ilmu yang membahas tentang tatanan Negara dan pemeritahan dan bagaimana menjalankan tujuan-tujuan Negara tersebut untuk kemakmuran warga negaranya.
2.      Ruang Lingkup Ilmu Politik
Ruang lingkup disiplin ilmu politik konterporer sangat luas. Menurut O’Leary 2000:797) (subbidang  utama dari penyelidikan ilmu politik meliputi: pemikiran politik, lembaga-lembaga politik, sejarah politik, politik perbandingan, ekonami politik, administrasi politik.
Berbicara tentang ilmu politik, tentu tidak terlepas dari adanya berbagai pandangan tentang teori-teori yang berhubungan dengan ilmu politik itu sendiri, berikut dijelaskan beberapa teori yang terkait dengan ilmu politik:
1.      Teori Politik
Konsep politik lahir dalam pikiran (mind) manusia dan bersifat abstrak. Konsep digunakan dalam menyusun generalisasi abstrak mengenai beberapa phenomena, yang disebut sebagai teori. Berdasarkan pengertiannya, teori politik bisa dikatakan sebagai bahasan dan generalisasi dari phenomena yang bersifat politik.   Menurut Thomas P. Jenkin dalam The Study of Political Theory teori politik  dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.       Norms for political behavior, yaitu teori-teori yang mempunyai dasar moral dan norma-norma politik. Teori ini dinamakan valuational (mengandung nilai). Adapun yang termasuk golongan antara lain filsafat politk, teori politik sistematis, ideologi, dan sebagainya.
b.      Teori-teori politik yang menggambarkan dan membahas phenomena dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma-norma atau nilai (non valuational), atau biasa dipakai istilah “value free” (bebas nilai). Biasanya bersifat deskriptif dan berusaha membahas fakta-fakta politik sedemikian rupa sehingga dapat disistematisi dan disimpulkan dalam generalisasi-genera-lisasi.
2.      Pemikiran Politik
Subbidang ini merupakan akumulasi bangunan teks dan tulisan para filsuf besar yang membingkai pendidikan intelektual kepada banyak mahasiswa politik. Diantaranya karya-karya besar para pemikir sejak zaman pelato dan arisoteles, zaman  pertengahan dan awal modern dan karya-karya Aquinas,Agustine, Hobbes,Locke, Rousseau,dan Montesquieu, serta buku-buku penulis moderen seperti Kant, Hegel, Marx, Tocqueville, dan Mill (O’Leary, 2000:788)
3.      Lembaga-lembaga Politik
Lembaga-lembaga politik merupakan kajian terhadap lembaga politik khususnya peranan konstitusi, ekskutif, birokrasi, yudikatif, partai politik dan sistem pemilihan yang mula-mula mendorong pembentukan formal jurusan-jurusan lmu politik dibanyak universitas pada abad ke-19 (Miller, 2002: 790).
Sebagian besar mereka tertarik  pada urusan penelusuran asal-usul dan perkembangan lembaga-lembaga politik dan memberikan deskripsi-deskripsi penomenologis; memetakan konsekuensi formal dan procedural dari institusi-institusi politik.
4.      Sejarah Politik
Banyak para ilmuan politik yang menjelaskaan tentang sejarah politik walaupun sering bias terhadap sejarah kontemporer. Pada umumnya mereka percaya bahwa tugas ilmuan politik menawarkan penjelasan reprodiktif, bukannya prediksi-prediksi kritis yang sangat deskriptif. Mereka yakin bahwa kebenaran terletak pada arsif pemerintah (O’Leary, 2000: 790). Selain itu secara garis besar politik cenderung terbagi dua kubu:
a.       High politic (Politik Tinggi), yaitu yang mempelajari perilaku politik para pembuat keputusan elite, mereka percaya bahwa kepribadian dan mekanisasi para elite politik adalah kunci pembuat sejarah. Mereka pun percaya bahwa perluasan kekuasaan dan kepentingan diri dapat menjelaskan perilaku sebagian kaum elite.
b.      Low politic (Politik Bawah), mereka percaya bahwa perilaku politik massa dapat memberikan kunci untuk menjelaskan episode-episode politik utama seperti halnya beberapa revolusi yang terjadi. Selain itu, bagi mereka charisma, plot, maupun blunder para pemimpin kurang begitu penting dibandingkan dengan perubahan nilai-nilai kepentingan dan kolektifitas (O’Leary, 2000: 790).
5.      Teori Kenegaraan
Teori ini sering diduga teori politik yang paling padu dalam memberikan perhatian bagi teori politik kontemporer, pemikiran politik, administrasi public, kebijakan public, sosiologi politik (O’Leary’ 2000: 794).mengingat kebanyakan ilmu politik kontemporer memfokuskan pada organisasi Negara dalam sistem demokrasi liberal. Dalam hal ini, demokrasi liberal sebagai bagian dari jawaban terhadap perkembangan kegiatan Negara yang pada abad ke-20 telah terlihat fungsi-fungsi negera melebar melampaui inti minimal pertahanan, keteraturan dan pembuatan hokum serta perlindungan terhadap agama dominan hingga meliputi managemen dan regulasi ekonomi serta social yang ekstensik (O’Leary, 2000: 795).
6.      Hubungan Internasional
Hubungan antar Negara adalah hubungan internasional. Asal-usul hubungan internasional terdapat dalam karya para teolog, yang mengajukan argument tentang kapan dan bagaimana perang itu dianggap adil, seperti karya Grotius, Pufendorr, dan fettle yang  mencoba menyatakan bahwa ada hokum bangsa-bangsa yang sederajat dengan hokum domestic Negara-negara, dan karya-karya para filsuf politik, seperti Rousseau dan Kant yang membahas kemungkinan perilaku moral dalam perang dan kebutuhan akan tatanan internasional yang stabil dan adil (O’Leary, 2000: 794).
3.      Tujuan dan Fungsi Ilmu Politik
Dalam beberapa hal ilmu politik memiliki sifat ambigu, mendua, dan paradok. Dalam ilmu terkandung rasa campuran antara ingin tahu, menarik, jijik, bernafsu, serakah dan sikap-sikap positif bergalau dengan negative. David after dalam bukunya yang berjudul introduction to political analysis, seks (after, 1996: 5). Sebagaimana seks politik menjadi suatu pokok kajian yang dihindari dalam masyarakat yang sopan. Akan tetapi, sebagaimna kita butuh akan keindahan, kemesraan, kesenangan, kekuasaan, dan keagungan sebagai pemimpin dan penakhluk dimuka bumi ini, kita perlu tahu dan merasakan hal-hal Dalam beberapa hal ilmu politik memiki sifat ambigu, mendua, dan paradok. Dalam ilmu terkandung rasa campuran antara ingin tahu, menarik,jijik, bernafsu, serakah dan sikap-sikap positif bergalau dengan negative. David after dalam bukunya yang berjudul introduction to political analysis, seks (after, 1996: 5). Sebagaiman seks politik menjadi suatu pokok kajian yang dihindari dalam masyarakat yang sopan. Akan tetapi, sebagaimna kita butuh akan keindahan, kemesraan, kesenangan, kekuasaan, dan keagungan sebagai pemimpin dan penakhluk dimuka bumi ini, kita perlu tahu dan merasakan hal-hal yang terlarang pada  suatu masalah, kita pun membutuhkan kontaversi dari masalah lain. Tidak aneh jika dalam mempelari ilmu politik membangkitkan perasaan yang mendalam, seperti rasa cinta, setia, bangga, sekaligus rasa jijik, benci, malu, dan marah.
Sebagai sebuah disiplin ilmu ruang lingkup ilmu politik lebih luas dan umum daripada ideology apapun. Akan tetapi, secara khusus untuk memahami nilai-nilai demokrasi hal itu begitu tampak, tertama di amerika serikat dan di Negara-negara barat lainnya yang mengunggulkan cita-cita demokrasi dalam praktik-praktik kelembagaan. Setidaknya secara umum terdapat tiga makna tujuan mempelajari ilmu politik:
1.      Perspektif intelektual
Tujuan politik adalah tindakan politik untuk mencapainya, diperlukan pembelajaran untuk memperbesar kepekaan pembelajar sehingga ia dapat bertindak agar dapat bertindak dengan baik secara politik orang perlu mempelajari asas dan nilai seni politik dan nilai-nilai yang di anggap penting oleh masyarakat, seperti bagaimana nilai-nilai diwujudkan dakam lembaga-lembaga serta taktik dan strategi yang digunakan untuk bertindak dengan demikian orang belajar bagaimana kekuasaan di jinakkan oleh Promet Heus dan diabdikan kepada tujuan manusia yang positif. Sebagai contoh, Plato dan Aristoteles diakadem-akademi yunani, dan juga mereka sangat terlibat dalam politik praktis. Jadi, perspektf intelektual dalam politik adalah perspektif yang mempergunakan diri sendiri sebagai titik tolak sebab perspektif itu bertolak dan bangun berdasarkan apa yang dianggap salah oleh individu maka pemikiran individu itu yang memperbaikinya.
2.      Persfektif Politik
Maksudnya adalah bahwa pandangan intelektual mengenai oilitik tidak banyak berbeda dengan pandangan politisi. Bedanya jika politisi lebih bersifat “segera” (yang ada kini dan di sini, daripada hal-hal yang teoritis), sedangkan intelektual dapat menjadi politisi jika ia mampu memasukkan masalah politik dalam pelayanan suatu kepentingan atau tujuan. Sebagai contoh, sebuah kasus dengan adanya sistem pemilihan langsung di Indonesia, banyak intelektual yang bersedia menjadi calon legislative dan eksekutif pusat dan daerah. Dengan kampanye bergaya “ orator mendadak”, dalam waktu singkat mereka mempersiapkan dan menggunakan strategi itu dari yang biasanya sangat teoritis mendadak berubah ke dalam suatu kerangka kerja yang bersifat praktis. Hal ini mirip dengan apa yang dinyatakan Robert Dhal (1967: 1-90) bahwa dalam waktu singkat mereka telah menjadi politis.
3.      Perspektif ilmu politik
Dalam hal ini, pollitik dipandang sebagai ilmu. Ia menilai politik dari sisi intelektual degan pertimbangan kritis sea memiliki kretiria yang sistimatis. Pendirian ini memandang teradap kehdupa kedepan, untuk meramalkan akibat tindakan politik maupun kebijakan para politisi. Jika para politisi memandang politik sebagai psat kekkuasaan public, kaum intelektual memandang politik sebagai perluasan pusat moral dari diri. Dengan demikian, politik sebagi ilmu menaruh perhatian pada dalil-dalail, keabsahan, pecobaan, hokum keragaman, dan pembentukan asas-asas yang  universal (Apter, 1996:21)
Tentu saja ilmuan politik professional memandang politik sebagai suatu sistem sebagai perubah terorganisasi yang saling berinteraksi. Sistem itu meliputi pemerintah, partai politik, kelompok kepentingan, kebijaksanaan, termsuk individu-individu. Baik intelekual maupun politisi dapat saja meragukan, apakah politik itu ilmu? Sebab sebagian besar dari mereka berasumsi bahwa politik itu seni. Politik dapat memiliki dampak terbaik, bahkan terburuk kepada rakyat. Di satu sisi, politik pun meyerupai agama dalam beberapa aspirsiinya, dan mirip tindakan kejahatan dalam sebagian kegiatannya, seperti licin curang , dan serakah.
Dalam ilmu politik begitu banyak macam perasaan, sehingga sebagian orang ada juga menganggap bahwa pilitik itu adalah suatu hal yang menjijikan. Namun, beberapa kalangan juga menganggap bahwa politik itu adalah seni. Walau bagaimana pun sebuah politik itu, ia tetap saja di butuhkan dalam sebah pemerintahan suatu Negara atau dalam suatu kehidupan karena pada dasarnya politik itu adalah ajakan atau suatu tindakan mempengaruhi seseorang untuk mengikuti orang yang memberikan pengaruh untuk tujuan tertentu.
4.      Implementasi Ilmu Politik Dalam Masyarakat
Implementasi atau penerapan wawasan nusantara harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, wawasan nusantara menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Implementasi wawasan nusantara senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh.
Tujuan akhir pendidikan ilmu politik ini yaitu bagaimana membentuk karakteristik mahasiswa agar memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang ilmu politik serta dapat menerapkannya dalam kehitupan sehari-hari. Bentuk nyata implementasi ilmu politik dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa antaralain yaitu mampu menyikapi berbagai problematika politik yang terjadi di lingkungan sekitar, serta mampu menentukan sikap.

Evaluasi:
Setelah mempelajari materi konsep dasar politik pemerintahan ini, coba kalian jawab beberapa pertanyaan berikut ini:
1.      Jelaskan apa pengertian dari ilmu politi pemerintahan!
2.      Jelaskan mengapa ilmu politi pemerintahan itu penting untuk dipelajari
3.      Jelaskan bagaimana contoh penerapan ilmu politik pemerintahan dalam kehidupan sehari-hari!
4.      Jelaskan bagaimana peran ilmu politik pemerintahan khususnya pada kondisi era pasca reformasi saat sekarang ini di Indonesia!

Share this article :

0 komentar:

 
Support : Berbagi | AULIA | Mikaila
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. DARIKU UNTUKMU - All Rights Reserved