Headlines News :
Home » » Kompetensi Guru Dalam Pebelajaran IPS SD

Kompetensi Guru Dalam Pebelajaran IPS SD

Written By mikailahaninda.blogspot.com on Kamis, 12 Februari 2015 | 13.36

Kompetensi Guru Dalam Pebelajaran IPS SD


 A.    Kompetensi Dasar
Diharapkan yaitu mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kompetensi guru dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SD.

B.     Deskripsi Materi
Guru adalah sosok yang sangat berperan dan mempunyai pengaruh besar dalam proses pendidikan. Guru sering dianggap sebagai kata kunci pelaksanaan suatu proses pendidikan. Ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya arti seorang guru dalam menjalankan sebuah proses pendidikan.
Beranjak dari peran sentral seorang guru dalam proses pendidikan, tentu membawa konsekwensi yang harus dihadapi oleh seorang guru atau calon guru. Konsekuensi tersebut yaitu adanya tuntutan bagi seorang guru untuk profesional dalam menjalankan tugasnya. Tuntutan yang profesional ini tentunya memberikan sebuah penekanan kepada guru untuk menguasai beberapa keahlian dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien, sekurangnya ada delapan komponen dasar pengajaran yang yang harus dikuasai oleh seorang guru antara lain, yaitu:
1.      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
2.      Keterampilan bertanya dasar dan lanjut
3.      Keterampilan memberikan penguatan
4.      Keterampilan mengelola kelas
5.      Keterampilan mengadakan variasi (penggunaan alat/media)
6.      Keterampilan memimpin diskusi dan kelompok kecil
7.      Keterampilan menjelaskan
8.      Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
Untuk lebih jelasnya, kedelapan komponen kompetensi dasar mengajar tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci berikut ini.
1.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Menurut Munif Chatib (2010) dalam bukunya Gurunya Manusia menjelaskan bahwa sepuluh menit awal pembelajaran adalah gambaran secara umum dari proses pembelajaran yang akan berlangsung satu jam ke depan. Lebih lanjut, Munif menjelaskan bahwa jika guru berhasil membuat siswa tertarik pada guru dan apa yang guru sampaikan pada awal pertemuan maka guru akan mendapatkan perhatian dari para siswa untuk beberapa jam ke depan. Siswa akan merasa tertarik dengan pembukaan yang dilakukan guru, selanjutnya siswa akan terus mengikuti kegiatan pembelajaran dengan penuh daya tarik dan motivasi tinggi.
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran  peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh. Hal ini sangat penting terutama untuk menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih terarah dan terstruktur.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik, dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar. Ini penting dilakukan sebagai acuan untuk pelaksanaan pembelajaran yang akan datang. Misalnya, setelah menutup pelajaran guru dapat memperoleh informasi tentang ketercapaian proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, sehingga untuk pertemuan berikutnya guru bisa lebih meningkatkan atau mengoftimalkan proses pembelajaran untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi dari yang sekarang.
Adapun beberapa prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam membuka dan menutup pelajaran antara lain:
a.       Dalam membuka pelajaran ini diarahkan untuk memberi makna kepada siswa, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan dipelajari atau disampaikan kepada siswa.
b.      Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis sehingga siswa tidak mengalami miskonsep.
c.       Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan awal atau pengalaman dunia nyata siswa di lingkungan sekitarnya.
Adapun tujuan dari kegiatan membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan oleh guru antara lain, yaitu:
a.       Mengkondisikan siswa agar siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran.
b.      Untuk menimbulkan minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran yang akan dibicarakan.
c.       Memungkinkan siswa mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran.
d.      Agar siswa mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan.
2.      Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut
Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru yang menuntut respon atau jawaban dari peserta didik. Keterampilan ini merupakan kemampuan bagaimana guru menyampaikan pertanyaan kepada siswa dalam proses pembelajaran baik pertanyaan dasar maupun pertanyaan lanjut. Salah satu tujuannya adalah agar siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran yang sedang disampaikan.
Dalam proses belajar mengajar, pada umumnya cara guru mengajukan pertanyaan kepada siswanya dapat dibedakan atas: ketrampilan bertanya dasar yang mempunyai beberapa komponen yang perlu diterapkan dalam mengajukan segala jenis pertanyaan, sedangkan ketrampilan bertanya lanjut merupakan lanjutan dari bertanya dasar yang mengutamakan usaha pengembangan kemampuan berfikir siswa.
Adapun keterampilan bertanya yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran antara lain untuk:
a.       Memotivasi siswa agar terlibat dalam interaksi belajar
b.      Melatih kemampuan mengutarakan pendapat
c.       Merangsang dan meningkatkan kemampuan berfikir siswa
d.      Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang sedang dijelaskan guru.
e.       Memusatkan perhatian siswa
f.       Mengembangkan SCL (Studen Center Learning)
g.      Mencapai tujuan belajar
Adapun jenis-jenis pertanyaan yang dapat diterapkan guru dalam proses pembelajaran antara lain:
a.       Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik.
b.      Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas.
c.       Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi.
d.      Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain.
e.       Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri.
Dalam memberikan pertanyaan kepada siswa, seorang guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip bertanya, agar pertanyaan yang diberikan lebih efektif dan mudah dipahami oleh siswa, antara lain:
a.       Pertanyaan hendaknya mengenai satu masalah saja dengan memberikan waktu berfikir kepada siswa.
b.      Pertanyaan hendaknya singkat, jelas, dan disusun dengan kata-kata yang sederhana agar mudah dipahami siswa.
c.       Pertanyaan didistribusikan secara merata kepada para siswa.
d.      Pertanyaan langsung sebaiknya diberikan secara random.
e.       Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan siswa.
f.       Sebaiknya hindari pertanyaan retorika atau leading question (pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban).
Seorang guru dalam memberikan pertanyaan, ada beberapa teknik yang dapat diterapkan antara lain:
a.       Tekhnik menunggu
b.      Tekhnik menguatkan kembali
c.       Tekhnik menuntun dan menggali
d.      Tekhnik melacak
Perlu diingat oleh seorang guru bahwa dalam menerapkan beberapa teknik bertanya tersebut, tentunya harus disesuaikan dengan kondisi siswa serta tingkat kesukaran pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memperoleh jawaban atau respon siswa sesuai yang diharapkan.
3.      Keterampilan Memberikan Penguatan
Memberi penguatan merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain. Penguatan juga dapat diartikan sebagai respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu.
Teknik pemberian penguatan dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Penguatan verbal merupakan penghargaan yang dinyatakan dengan lisan, sedangkan penguatan nonverbal dinyatakan dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, pemberian sesuatu, dan lain sebagainya.
 Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal adanya penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak menyenangkan.
Skinner menyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan negatif. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak yang melakukan pengulanggan perilakunya itu, contohnya pujian. Sebaliknya jika respon siswa kurang atau tidak diharapkan sehingga tidak menunjang tujuan pembelajaran, harus segera diberi penguatan negatif agar respon tersebut tidak di ulangi lagi dan berubah menjadi respon yang sifatnya positif contohnya teguran, peringatan atau sanksi.
Selain itu, keterampilan memberi penguatan adalah respon positif dari guru kepada siswa yang telah melakukan suatu perbuatan baik. Pemberian penguatan ini dilakukan oleh guru dengan tujuan agar siswa lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar mengajar dan agar siswa mengulangi lagi tindakan untuk waktu yang akan datang.
Pemberian penguatan pada dasarnya cukup mudah untuk dilakukan guru, namun pada kenyataannya kadang-kadang banyak diantara guru yang tidak melakukan pemberian penguatan kepada siswa yang melakukan tindakan yang baik. Walaupun pemberian penguatan sifatnya sederhana dalam pelaksanaannya, namun dapat pula pemberian penguatan yang diberikan kepada siswa justru membuat siswa enggan belajar karena penguatan yang diberikan tidak sesuai dengan tindakan yang dilakukan siswa tersebut. Pemberian penguatan yang berlebihan akan dapat berakibat fatal. Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam pemberian penguatan antara lain:
a.       Hangat dan Antusias
Dalam memberikan penguatan kepada siswa, guru hendaknya menunjukkan sifat yang baik, menarik, dan juga sungguh-sungguh sehingga siswa merasa senang dengan sikap guru saat memberi penguatan. Dalam pemberian penguatan diharapkan guru menunjukkan ekspresi wajah yang menarik, sinar mata yang sejuk, suara yang jelas dan enak didengar, serta penuh dengan ketulusan hati.
b.      Bermakna
Pemberian penguatan hendaknya disesuaikan dengan tingkat pencapaian keberhasilan siswa dan mempunyai arti bagi siswa yang melakukan tindakan, sehingga penguatan dapat diterima siswa dengan senang hati.
c.       Hindari Penggunaan Penguatan Negatif
Walaupun pemberian kritik atau hukuman efektif untuk dapat mengubah motivasi, penampilan, dan tingkah laku siswa, namun hal itu dapat memiliki dampak yang sangat kompleks. Secara psikologis pemberian hukuman yang bersifat negatif ini agak kontroversial, karena itu sebaiknya dihindari. Banyak akibat yang muncul yang tidak dikehendaki, misalnya siswa menjadi frustrasi, berani menentang guru, hukuman dianggap sebagai kebanggaan, dan peristiwa akan terulang kembali bahkan bisa-bisa lebih parah dari yang pertama terjadi.
d.      Penggunaan Penguatan yang Bervariasi
Pemberian penguatan seharusnya diberikan secara bervariasi, baik komponennya maupun caranya dan diberikan secara hangat dan antusias. Penggunaan cara dan jenis komponen yang sama misalnya guru selalu menggunakan kata-kata “bagus” ini dapat mengurangi efektivitas pemberian penguatan. Pemberian penguatan juga akan bermanfaat bila arah pemberiannya bervariasi, mula-mula keseluruhan anggota kelas, kemudian kelompok kecil, akhirnya keindividu, sehingga semua siswa dapat merasakan penguatan yang diberikan guru.
Adapun tujuan pemberian penguatan pada siswa pemberian penguatan pada proses belajar mengajar antara lain:
a.       Meningkatkan perhatian dan motivasi siswa terhadap materi
b.      Mendorong siswa untuk berbuat baik dan produktif
c.       Menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa
d.      Meningkatkan cara belajar siswa aktif
e.       Mendorong siswa untuk meningkatkan belajarnya secara mandiri
f.       Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
g.      Merangsang peserta didik berfikir positif
h.      Mengembalikan dan mengubah sikap negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
4.      Keterampilan Mengelola Kelas
Menurut Djamarah (1997: 129) Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses interaksi edukatif dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses interaksi edukatif. Termasuk kedalam hal ini adalah misalnya penghentian tingkah laku anak didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas anak didik, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa ketrampilan mengelola kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan ketrampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila keterampilan pengelolaan kelas dapat dilakukan dengan baik maka akan berdampak positif, baik pada siswa maupun pada guru yang bersangkutan.
Adapun manfaat pengelolaan kelas yang baik bagi siswa antaralain yaitu:
  1. Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkahlakunya serta sadar akan mengendalikan dirinya.
  2. Membantu siswa mengerti akan arah tingkahlakunya sesuai dengan tatatertib kelas dan merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan bukan kemarahan.
  3. Menimbulkan rasa kewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkahlaku yang wajar sesuai dengan aktivitas kelas yang sedang berlangsung.
Adapun manfaat pengelolaan kelas yang baik bagi siswa antaralain yaitu:
  1. Mengembangkan pengertian dan ketrampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah pelajaran secara tepat dan baik.
  2. Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensi di dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa.
  3. Memberikan respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguang.
Tujuan dari pengelolaan kelas yang dilakukan guru antaralain sebagai berikut:
a.       Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa memgembangkan kemampuannya secara optimal.
b.      Menghilangkan berbagai hambatan dan pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar mengajar.
c.       Mempertahankan keadaan yang stabil dalam suasana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat dikurangi dan dihindari.
d.      Melayani dan membimbing perbedaan individual siswa.
e.       Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas.
Dalam melakukan pengelolaan kelas agar menjadi efektif dalam mengupayakan terciptanya kondisi pembelajaran yang optimal, ada beberapa prinsip pengelolaan kelas yang perlu diperhatikan oleh guru, antaralain:
a.       Keluwesan, digunakan apabila guru mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah strategi mengajarnya
b.      Kehangatan dan keantusiasan
c.       Bervariasi, gunakan variasi dalam proses belajar mengajar
d.      Tantangan, gunakan kata-kata, tindakan atau bahan sajian yang menantang
e.       Tanamkan displin diri, selalu mendorong siswa agar memiliki disipin diri
f.       Menekankan hal-hal positif, memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif.
Secara umum, komponen keterampilan dalam mengelola kelas dapat dibagi menjadi dua, yaitu: keterampilan yang bersifat preventif (pencegahan) dan keterampilan yang bersifat represif.
a.       Keterampilan yang bersifat preventif, ini dapat dilakukan guru dengan menggunakan kemampuannya, dengan cara:
1)      Memusatkan perhatian
2)      Menunjukkan sikap tanggap
3)      Menegur
4)      Membagi perhatian
5)      Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
6)      Memberi penguatan
b.      Keterampilan megelola kelas yang bersifat represif, ini dapat dilakukan oleh guru dengan menggunakan keterampilan dengan cara:
1)      Pengelolaan kelompok
2)      Modifikasi tingkah laku
3)      Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
4)      Memberikan tindakan tegas terhadap pelanggaran yang terjadi
Dalam proses pengelolaan kelas agar dapat mengkondisikan proses pembelajaran menjadi lebih efektif, ada beberapa hal yang harus dihindari, yaitu:
b.      Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
c.       Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
d.      Penyimpangan
e.       Kesenyapan
f.       Bertele-tele
g.      Tidak menuntut keaktifan siswa dalam belajar
5.      Keterampilan Mengadakan Variasi
Pengertian penggunaan variasi merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan untuk mewujudkan tujuan belajar siswa sekaligus mengatasi kebosanan dan menimbulkan minat, gairah, dan aktivitas belajar mengajar yang efektif.
Menurut Uzer Usman (2005: 84) Variasi adalah suatu kegiatan guru dalam konteks interaksi belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosana siswa sehingga dalam proses belajar mengajar murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme,serta penuh partisipasi.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap, dan perbuatan guru dalam konteks belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya.
Penerapan variasi yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas, tentu tidak terlepas dari adanya tujuan yang hendak dicapai. Tujuan diterapkannya variasi tersebut antara lain:
a.       menghilangkan kejemuan siswa dalam mengikuti proses belajar
b.      mempertahankan kondisi optimal belajar
c.       meningkatkan perhatian dan motivasi siswa
d.      memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
e.       menjadikan pembelajaran lebih bermakna bagi siswa
f.       menyesuaikan kondisi siswa dalam belajar
Dalam menerapkan variasi mengajar di dalam kelas, banyak jenis variasi yang dapat dipilih untuk diterapkan oleh guru sesuai kondisi dan kebutuhan siswa, variasi tersebut antara lain:
a.       variasi dalam penggunaan media
b.      variasi dalam gaya mengajar
c.       variasi dalam penggunaan metode
d.      variasi dalam pola interaksi yaitu gunakan pola interaksi multi arah
Penerapan variasi dalam pembelajaran perlu memperhatikan beberapa prinsip agar penerapan variasi tersebut sesuai tujuan dan menjadi pembelajaran lebih optimal. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a.       gunakan variasi dengan wajar, jangan dibuat-buat
b.      perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif
c.       penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik
6.      Keterampilan Memimpin Diskusi dan Kelompok Kecil
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok yang bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip, atau kelompok tertentu. Diskusi kelompok kecil di sini adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah.
Dalam melaksanakan kegiatan pembimbingan diskusi kelompok kecil, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip antara lain yaitu:
a.       Laksanakan diskusi dalam suasana yang menyenangkan
b.      Berikan waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
c.       Rencanakan diskusi kelompok dengan sistematis
d.      Bimbinglah dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
Pelaksanaan kegiatan pembimbingan diskusi kelompok kecil yang dilakukan guru tentu diharapkan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang optimal. Untuk mengoptimalkan kegiatan pembimbingan dalam diskusi kelompok kecil ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan guru, antara lain yaitu:
a.       Memperjelas permasalahan
b.      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
c.       Pemusatan perhatian
d.      Menganalisa pandangan peserta didik
e.       Meningkatkan urutan pikiran peserta didik
f.       Menutup diskusi/membimbing siswa menyimpulkan hasil diskusi
Untuk lebih efektinya pelaksanaan kegiatan pembimbingan diskusi kelompok kecil yang dilakukan guru, ada beberapa hal yang perlu dihindari, antara lain:
a.       Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa
b.      Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk memikirkan pemecahan masalah
c.       Membiarkan diskusi dikuasai oleh siswa tertentu
d.      Membiarkan siswa mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
e.       Membiarkan siswa tidak aktif atau pasif dalam diskusi
f.       Tidak merumuskan hasil diskusi dan tindak lanjut

7.      Keterampilan Menjelaskan
Kegiatan pembelajaran merupakan proses interaksi antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lain dalam suatu kondisi atau lingkungan yang telah ditentukan jadwal dan kegiatannya secara ilmiah. Adanya proses interaksi antara guru dengan siswa ini menunjukkan bahwa seorang guru baru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara efektif apabila didukung dengan adanya kemampuan guru dalam menjelaskan materi yang diajarkan kepada siswa.
Keterampilan menjelaskan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan ajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keterampilan menjelaskan ini mutlak harus dikuasai oleh seorang guru.
Kemampuan dalam menjelaskan materi pelajaran kepada siswa, tentu tidak semudah dan sederhana yang kebanyakan orang bayangkan. Banyak orang guru yang bisa menjelaskan materi kepada siswa, namun hal itu tidak menjamin adanya hasil atau proses pembelajaran yang optimal. Perlu diketahui bahwa dalam keterampilan menjelaskan ini, guru perlu memperhatikan bagaimana menjelaskan materi kepada siswa dengan cara yang efektif dan penuh makna.
Dalam melaksanakan proses pembelajaran dengan menjelaskan materi kepada siswa, ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru, antara lain yaitu:
a.       Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik siswa.
b.      Penjelasan harus diselingi tanya jawab
c.       Materi penjelasan harus dikuasai secara baik oleh guru
d.      Penjelasan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran
e.       Materi penjelasan harus bermanfaat dan bermakna bagi siswa
f.       Penjelasan harus disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan dengan kehidupan nyata siswa
g.       Penjelasan hendaknya memperhatikan intonasi, agar siswa dapat mendengarkan apa yang dijelaskan guru.
Keterampilan menjelaskan materi kepada siswa tentu tidak semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, dengan kata lain untuk dapat menyampaikan materi kepada siswa, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan oleh seorang guru, yaitu:
a.       Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan harus sederhana, terang, dan jelas.
b.      Bahan yang akan diterangkan dipersiapkan dan dikuasai terlebih dahulu.
c.       Pokok-pokok yang diterangkan harus disimpulkan.
d.      Dalam menjelaskan serta dengan contoh dan ilustrasi.
e.      Adakan pengecekan terhadap tingkat pemahaman peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan.
Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran terutama dalam proses menjelaskan materi kepada siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran dapat berjalan secara optimal, antara lain yaitu:
a.       Hindari penggunaan kata-kata yang ambigu, ini dapat membuat siswa bingung sehingga siswa tidak fokus pada materi yang dijelaskan guru.
b.      Hindari penjelasan yang monoton, sesekali diselingi dengan canda untuk menyegarkan suasana.
c.       Hindari penjelasan dengan tetap di satu posisi, sebaiknya dalam menjelaskan guru dapat berpindah-pindah posisi, ini untuk tetap menjaga konsentrasi siswa agar dapat dipastikan semua siswa memperhatikan penjelasan guru.
8.      Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan siswa dalam belajar secara kelompok dengan jumlah siswa  berkisar antara 3 hingga 5 orang hingga 9 orang untuk setiap kelompoknya.
Keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur, dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual siswa.
Pembelajaran klasikal selama ini senantiasa menimbulkan masalah bagi siswa pada umumnya. Pembelajaran klasikal cenderung memperlakukan siswa sama rata, tidak memperhatikan berbagai perbedaan yang terdapat pada diri siswa. Siswa memiliki keunikan yang kompleks, hal ini disebabkan oleh berbagap faktor baik internal maupun eksternal. Sehingga diperlukan adanya perlakuan yang berbeda tiap siswa sesuai kebutuhannya.
Guru professional memahami dengan baik aneka perubahan dan perbedaan yang terdapat pada siswanya. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain dalam kemampuan akademik, temperamen, cara mencari perhatian, latar belakang sosial ekonomi keluarga dan lingkungan, agama, suku, jenis kelamin. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa secara alami siswa butuh perlakukan yang berbeda. Sementara pembelajaran selama ini cenderung  tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan haknya mendapat perlakuan khusus dari guru.
Jumlah siswa yang cukup besar di kelas memang menyulitkan guru untuk sering melakukan pendekatan kelompok kecil dan perorangan. Guru yang profesional harus ada waktu yang disediakan untuk pendekatan kelompok kecil dan perorangan. Guru dapat mengurangi rasa kecewa siswa dengan mengadakan pendekatan kelompok kecil. Pendekatan ini member solusi terhadap yang memiliki kesulitan atau permasalahan yang sama atau hampir sama.
Pembelajaran dengan pendekatan perorangan dan kelompok kecil menfasilitasi siswa yang berbeda berpeluang untuk mendapatkan perhatian. Siswa mendapatkan perlakuan sesuai dengan kebutuhannya. Selama pembelajaran berlangsung guru memberi perhatian kepada beberapa kelompok dan lebih banyak siswa dibandingkan dengan pembelajaran klasikal.
Keberhasilan guru dalam mengajar dengan pendekatan perorangan dan kelompok kecil, ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengadakan pendekatan secara psikologis pada siswa, merancang bentuk penugasan, dan pemilihan strategi pembelajaran. Tanpa ketrampilan tersebut guru akan mengalami kesulitan dalam menerapkan pendekatan kelompok kecil dan perorangan.
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan ini ditandai dengan beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Terjadi interaksi yang akrab dan sehat antara siswa dengan guru atau sebaliknya.
b.      Siswa belajar sesuai dengan kecepatan, cara kemampuan, dan minatnya sendiri.
c.       Siswa mendapat bantuan dari guru sesuai dengan kebutuhannya.
d.      Siswa dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi, dan alat yang akan digunakan hingga tujuan yang ingin dicapai

Latihan
1)      Jelaskan apakah yang dimaksud dengan kompetensi guru!
2)      Untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien, sekurangnya ada delapan komponen keterampilan yang harus dimiliki oleh guru, coba sebutkan salah satu komponen tersebut dan berikan contohnya dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial!
3)      Tugas menjadi seorang guru adalah sebuah profesi, sehingga harus dilaksanakan secara profesional. Berdasarkan ungkapan tersebut, coba jelaskan bagaimana tugas seorang guru dalam mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial secara profesional!
4)      Coba kalian amati berbagai tugas guru dalam proses pembelajaran di sekolah, dan buat dalam bentuk laporan tertulis!
Share this article :

0 komentar:

 
Support : Berbagi | AULIA | Mikaila
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. DARIKU UNTUKMU - All Rights Reserved